Posted in Catatan Kampus Tulip, D&D, What Faith Can Do

Terimakasih, Mas

Hari ini libur.

Tidak ada ekspektasi apapun untuk hadirmu. Mengingat kesibukanmu yang padat aku tidak mengharap banyak akan hadirmu.

Bohong kalau aku tidak memikirkanmu. Namamu selalu aku sebut di dalam doaku. Kehadiranmu selalu berhasil menghiaskan senyum di bibirku. Tanyamu, gimana kondisimu, selalu membuat kondisiku seketika membaik, semual apapun aku saat itu.

Ajaib ya, kehadiranmu itu … seperti obat mujarab yang membuat semua sakitku lenyap.

Hei, kalau aku bilang every cancer survivor is super hero, people like you is a super hero too, my dear.

Terimakasih menyapaku pagi ini, Mas.

Advertisements
Posted in Catatan Kampus Tulip, What Faith Can Do

Every Cancer Survivor is A Super Hero

Hidup dengan diagnosa kanker didalam tubuhmu, anggaplah anugerah.
Jangan jadi beban, walaupun mengubah mindset itu nggak mudah.

Nggak semua orang berani menerima diri dengan diagnosa kanker. Nggak semua orang yang didiagnosa kanker mau berusaha berjuang untuk sembuh.

Karena hidup menjalani pengobatan kanker itu nggak mudah. Rangkaian operasi, kemoterapi, radiasi dan sinar selain jenuh, harus sabar, butuh biaya banyak, menyakitkan plus mual muntah yang luar biasa butuh kesabaran menjalaninya.

Saya, jatuh bangun menjalaninya selama kurang lebih tujuh bulan. Ada yang lebih lama dari saya. Bahkan salah satu teman saya 20th hidup dengan kanker dan sayangnya kankernya langka dan tidak ada treatment yang tepat untuknya. lelah. jenuh. sakit. takut. seram. tapi juga … ikhlas.

Tapi orang orang yang hidup dengan kanker itu, menurut saya, adalah superhero. They have a super power. ya … Kekuatannya adalah melawan kanker itu sendiri. Kami punya teamwork. Beberapa diantaranya adalah dokter, teman survivor, team medis, sahabat, dan keluarga.

As a teamwork we’re hand in hand working together to fight in our battle.

Menjadi survivor, warrior, atau apapun namanya … we are super hero.

We are choosen because we are special.

So, now i am asking.
What is your super power?

Posted in Catatan Kampus Tulip, What Faith Can Do

All What I Need

Menjalani kemoterapi ketiga. Jujur, mulai trauma dengan side efect duo kemo sebelumnya.

Yang lumayan berat adalah aku harus terlihat kuat. Selain aku menginginkannya, itu pun yang diinginkan orang orang sekitarku. Suami. Ibu. Papah. Saudara. Sahabat. Sesama survivors dan relawan.

Memang benar aku harus kuat. Tapi ada kalanya aku SANGAT ingin kebutuhanku terpenuhi. Apa saja?

Aku butuh didengarkan. Apa yang kurasa. Apa yang kualami. Aku butuh suamiku ada disini, menemani aku. Mengusap punggunguku sampai aku tertidur. Mungkin, rendahnya leukosit akibat kemo membuat rasa tidak nyaman di punggung. Aku butuh dipeluk suamiku dan dia katakan “Semua akan baik baik saja”.

Aku butuh melihat anak anak baik baik saja. Please stop saying that i have to survive for my kids. Even it is truly true, may i fight for my self? May i survive for my own life? Coz doing something hard when your body less energy for someone else (even it’s your family) is much harder than you have to fight for your own dream, your life.

Meniggalkan anak anak jauh dari pengawasanku adalah hal yang SANGAT berat bagi seorang ibu. Usia mereka baru akan 7 tahun dan 4,5 tahun.

Membebankan hidup berat pada patjar patjar ketjilku adalah beban tersendiri bagiku.

Aku ingin sembuh.

Aku butuh kuat dan sabar menjalani ini. Aku tidak mau mati muda. Tapi aku juga butuh sehat untuk hidup lebih lama.

Please stop saying “Nggak boleh ngomong soal kematian.”

Kenapa? Kalau kamu mau jujur, saat kamu tau aku sakit kanker, ada pikiran cemas bagaimana kalau aku mati lebih dulu dari kalian kan.

Jujur aja.

Memiliki pengalaman dekat dengan kematian membuatku tidak tabu membicarakan tentang kematian.

Karena kematian adalah bagian dari kehidupan.

Aku ingin aku punya cukup waktu untuk melakukan hal hal baik, hal hal bermanfaat, hal hal yang menyenangkan hatiku dan orang lain, sebelum waktunya aku dipanggil pulang.

Dulu, kemaren kemaren … aku pernah meminta Tuhan, jangan panggil aku pulang saat suamiku jauh. Aku ingin dia ada di sampingku. Tapi aku kini lebih realistis.

Kita semua datang sendiri dan pulang juga sendirian. Masalah pulang hanyalah masalah waktu dan cara. Mungkin aku dulu, atau malah orang lain dulu. Itu wajar saja. Tidak ada yang istimewa. Aku percaya waktu Tuhan tidak pernah salah.

Yang terpenting kemudian adalah, seberapa banyak waktu yang kita punya untuk bersama orang yang kita sayang? Seberapa besar usaha kita untuk mewujudkan waktu bersama dia yang akan pulang terlebih dulu. Kita nggak pernah tau siapa yang lebih dulu dan kapan waktu kita akan pulang. Jangan sampai menyesal kita kekurangan waktu bersamanya.

Sebisa mungkin aku menghabiskan waktu bersama dengan anak anakku. Suamiku. Papah Ibu. Bapak Ibu mertua. Kakak, Adik dan ponakan ponakanku. Sahabat sahabatku

Aku masih harus banyak belajar menyusun prioritas dan waktu yang aku punya untuk menikmati waktu bersama mereka.

Posted in Catatan Kampus Tulip, D&D, What Faith Can Do

Lebih Mudah Memadamkan Matahari

Lebih mudah memadamkan matahari
Karena senja ini padam, esok ia kembali terbit
Lebih sulit mengabaikan rindu
Yang terus menggebu
Kamu selalu tahu kapan waktu yang tepat mengetuk pintu
Ketika tertutup kamu memilih melalui mimpi untuk bertemu aku

Lebih mudah memadamkan matahari
Saat memejam cahayanya redup menyepi
Tapi rindu yang menderu
Tetap menyala seperti binar mata yang tak pudar saat aku dan kamu satu




💞 bermain kata kata sebelum memejam mata.
temui aku malam ini.
kunci pintu mimpiku masih kau bawa, jangan hilang!
gunakan malam ini, sudah kusiapkan satu bangku kosong dibawah redup lampu taman tempat kita bercerita tentang aku dan kamu dan bahagianya kita 💞



goodnite, goodpeople 🌷

Posted in Catatan Kampus Tulip, What Faith Can Do

When I Lost My Friends, I Get New Best One

FRIEND
[noun] is the one who listens, doesn’t judge, stands for you, makes you to be a better person and somehow makes everything all right.

Perempuan di sebelah saya ini, dari kemaren rempoooong aja ngerecokin nanyain keadaan saya. Ribet banget lah pokonya. Biasanya saya seneng ditanyain kabar apalagi pas saya lagi tepar teparnya karena kemo atau mabuk berat pasca kemo. Berasa ndak sendirian ditengah lara melanda.

Seharian ini, perempuan ini ribut lagi ngerecokin pengen ketemu. Ditengah saya dilanda rasa takut menjalani kemo hari ke 8 siklus kedua. Ribet dengan prosedur kemo one day care. Sedih mengatasi rasa mual yang otomatis membuat saya blas ndak doyan makan. Sebenarnya saya berharap dia membatalkan kedatangan. Saya tidak siap karena kondisi saya tidak prima. Saya takut mengecewakan dia.

Tapi perempuan ini maksa datang. Bertemu dan memeluk saya. Ditengah respon saya yang nggak pede karena penampilan saya seperi klumbrukan kumbahan reged yang kena bletok ngambruk seminggu dipojokan mesin cuci. Dia tetap datang. Memeluk. Menguatkan.

Seorang teman, sahabat, ada untuk menguatkan satu sama lain. Karena kalau bukan kita yang dikuatkan, tugas kita adalah menguatkan. Sesederhana itu.

Siang tadi, saya berkontemplasi arti kehadiran sahabat dalam hidup saya.

Dan saya terjebak dalam permenungan yang panjang.
saya sadar, saya masih JAUH dari kata sempurna, sebagai seorang sahabat.

Thank you ya cyn.
I love you.
Wis itu aja, mewakili rasaku 💗

Posted in Catatan Kampus Tulip, What Faith Can Do

Take Your Medicine

Prosedur pengurusan kemoterapi hari ke 8 adalah prosedur terberat selama saya menjalani proses penyembuhan. Setelah pulang kemo hari ke 5 siklus dua ini, saya merasa lebih mual. Bombom di jantung tidak begitu terasa seperti siklus pertama, tapi rasa mual yang sudah saya rasakan di hari kemoterapi kedua makin berat sampai di hari ke 6&7. Saya tidak doyan makan. Semua makanan berbumbu tertolak. Hari ke 6 post chemo saya hanya bisa makan apel 1 buah dan jus wortel satu gelas sepanjang hari. Hari ke 7 post chemo saya otw Kampus Tulip untuk pengurusan cek lab pra chemo day 8, kontrol dokter, daftar penjaminan, daftar obat dan daftar kemoterapi. Hari itu saya hanya bisa makan apel 1 buah, nanas 1 buah, dan jus sirsat. Tubuh lemas luar biasa. Yang saya kuatirkan adalah saya harus cek lab pra kemoterapi hari ke 8. Saya sudah pasrah HB drop apalagi leukosit. Pra kemo lalu aja saya masih bisa bugar walau badan krekes krekes, leukosit saya cuma 2,5. Bagaimana kondisi saya yang remuk redam nggak kemasukan makan?!? DOCTOR is sometimes THE BEST MEDICINE. Ditengah ribetnya urusan proses one day care, ada satu hal lagi yang bikin ribet. Dokter. Hari Selasa tidak ada jadwal praktek Dokter Ardhanu. Yang ada dokter lain yang belum pernah memeriksa saya. Jujur, saya sangat picky dengan dokter. Bertemu dengan dokter yang tidak menangani dari awal itu tidak ada chemistry. Hanya seperti obrolan pedagang dan pembeli aja. Lo jual gue beli. Tidak ada kedekatan personal yang ujungnya menjadi sugesti untuk semangat sembuh. Tapi ya sudahlah … cuma butuh acc dokter aja yang penting obat kemo odc bisa kelar. Besok kemo lancar. Eh, tapi Tuhan baiiiiik … dokter tersebut berhalangan datang … dan … dokter pengganti adalah Dokter Fahmi. Di kalangan survivor, bagi kami yang bolak balik berhubungan dengan dokter, ribet dengan segala prosedur yang ribet ditengah kondisi kesakitan, “keajaiban” dokter adalah magic buat kami. Oke. Saya siy Dokter Ardhanu Garis Keras. Kami masing masing biasanya mengunggulkan kehebatan dokter kami, haha. Ada siy yang beberapa terpaksa bersabar dengan dokter yang kurang memuaskan karena kurang komunikatif atau karena dengan pertimbangan sudah sejak awal dengan beliau. Uhm, saya siy masih ya … ukurannya adalah kapabilitas dokter itu sendiri PLUS bisa diajak diskusi. nggak melulu “jualan” karena hubungan pasien dan dokter berbeda dengan hubungan penjual dan pembeli — kataguesih. Back to keputusan Tuhan mempertemukan saya dengan Dokter Fahmi. Well, sudah jadi rahasia umum, dokter satu ini reputasinya cocok jadi model. Gantengnya selangit. Minimal iklan sabun wajah yang wajahnya setelah dipakein sabunnya. Kinclong. Pasien beliau yang pada bilang begitu. Jadi penasaran kan. [dasar ya, pasien ganjen haha] Nah, saya bertemu beliau saat Dokter Ardhanu berhalangan visit saat saya kemo hari pertama. Waktu itu cukup kaget, kirain ada kunjungan dari artis gitu haha … setelah notice, ah Dokter Fahmi. Masih muda, smiling face, dan ramah. Kami sempat ngobrol soal kroscek obat, hasil PA, dan info beliau visit karena menggantikan Dokter Ardhanu. Told you, sometimes doctor is the best medicine. Lanjut, kembali ke ruang praktek Dokter Fahmi. Beliau notice saya pasien Dokter Ardhanu (laiia… kan ada di status haha, … maksudnya pas kemaren visit dan kemo BEP gitu … nyinyir duluan siy kalau bahas yg ganteng ganteng). Nggak, nggak … sebenernya ini yang mau saya ceritakan. Saat kami berhadapan, … asli Dokter Fahmi ganteng banget dan … eh bukan, bukan itu … jadi gagal fokus kaaaaan …. 😢 Maksudnya, saat beliau membaca hasil lab, Dokter Fahmi bilang, “Wah keren HB nya 14,5 leukositnya 8,45 trombosit 400. Jarang pasien saya kemo HB dan leukositnya tinggi begini. Pertahankan ya.” katanya dengan senyum lebar yang bikin saya silau … maklum, saya lagi mabuk berat karena mual (minta pembenaran). Happy dong …. banget!!! Eh tapi jujur, saya juga shock. Sungguh saya kira saya harus transfusi atau suntik leukosit. Melihat kondisi saya mual muntah nggak bisa makan…. Tuhan baik. SUNGGUH BAIK. Kalau Tuhan sudah akan rancangkan besok saya harus kemo, manusia bisa apa. Bersyukur tok adanya. Wis, itu kewajiban bagian manusia. Bersyukur. Susah senang kudu bersyukur ya, Nduk. Eling !!! Dan, satu lagi ….. Melihat kondisi saya yang drop karena mual (Dokter Fahmi nanya kan saya keluhannya apa) … Dokter bilang : “Mbak, jangan anggap ini sakit supaya tidak jadi beban. Tuhan sayang sama Mbak Lusia. Tuhan sedang mengijinkan ujian dalam hidup Mbak, supaya Mbak dekat denganNya. Nanti, kalau tubuh sudah fit, ambil waktu untuk berlibur. Buat dirimu bahagia. Menjalani pengobatan kanker hati harus bahagia.” Well. Wellsaid. Saya terlalu fokus dengan proses kemo demi kemo yang rapat ini. Belum juga tubuh fit sudah ketemu hari kemo lagi. Saya kadang lupa saya berhak bahagia. Saya kadang lupa memberi reward diri sendiri saya berhasil melalui satu siklus. SAYA BERHAK BAHAGIA. Terimakasih Dokter Fahmi. Keep up the goodwork ya, Doc. sebagai pasien, saya banyak bertemu dokter, tenaga medis, profesi lain yang sekedar menjalani profesi tapi ada segelintir yang menjalani dengan hati. Tetaplah jadi dokter yang nggak cuma ganteng, tapi juga melayani dengan hati. Just feel good by doing good. Eh tapi seganteng gantengnya dokter fahmi, saya tetap dokter ardhanu garis keras. with capital, bold, and underline. penting!