Posted in Catatan Kampus Tulip

MALAS MENULIS

Sebenarnya malu sudah menulis lagi disini karena rasanya sudah lamaaa sekali off. Hampir satu tahun. Walaupun jiwa menulis selalu membuncah dan ingin dilepaskan tapi seringnya udahan males aja buka laptop atau mantengin wordpress.

Hampir setahun berlalu dan bingung sekarang mau nulis apa hehehe …

Banyak yang mengisi otak tapi tangan beku.

Oh my …

Posted in Wordisme

Katarsis : antara balas dendam dan sekeping koin lima rupiah

Pertama kali saya memutuskan untuk memilih novel Katarsis adalah karena sampul bukunya. Buat saya, kalimat DON’T JUDGE A BOOK FROM ITS COVER tidak berlaku. Buku yang bagus dengan cover yang tidak menarik akan membuat saya mengernyitkan dahi dan mungkin membuat saya memutuskan untuk tidak membeli / membaca buku tersebut.

katarsis.jpg

Judul buku : Katarsis

Penulis : Anastasia Aemilia

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2013

Jumlah halaman : 271

Novel ini bercerita tentang Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun yang menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya yang berada di Bandung. Tara satu-satunya orang yang hidup sementara semua keluarganya tewas. Ketika ditemukan, Tara disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam keadaan syok berat dan menggenggam sekeping koin lima rupiah tahun 1974. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Tara Johandi adalah putri tunggal pasangan Bara dan Tari Johandi. Karena Tari meninggal, Bara menitipkan Tara pada adiknya yang punya putra tunggal, Arif dan Sasi Johandi, dan anak mereka, Moses Johandi. Tara anak yang anti sosial. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan cenderung memiliki sifat psikopat. Konon kabarnya Tari meninggal juga karena dicelakai Tara. Kemudian Tara juga memutilasi Moses, kakak sepupunya karena berusaha memerkosanya. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan, Tara ikut tinggal bersama Alfons, psikiater baik hati yang mendedikasikan dirinya untuk kasus-kasus anak yang bermasalah psikologis. Lalu muncul Ello, laki laki tampan berlesung pipi yang psikopat. Ello naksir Tara. Ello juga salah satu pasien Alfons.

Saya suka dengan cara Anastasia Aemilia menuturkan. Kelam, suram, dan menjerat pembaca untuk terus melanjutkan lembar demi lembar. Mungkin latar belakang pendidikan dia sebagai psikolog sangat berpengaruh dalam pemilihan kata-kata dan alur cerita. Sebagai penikmat film-film psychology thriller, novel ini cukup menyalakan tombol-tombol penasaran dalam otak saya. Berharap  banyak dari ending yang memukau dan menebak-nebak arah cerita. Untuk cerita pembunuhan dan karakter tokohnya saya acungi jempol. Detail dan kompleks.

tara.jpgKarakter Tara Johandi yang dibuat oleh Shanly Alvionico Febrilian — salah satu pembaca Novel Katarsis

Sayangnya, sampai akhir novel saya tidak mendapatkan “SESUATU” kecuali sensasi membaca novel psikologi triler. Tidak ada nilai moral dan pesan yang disampaikan oleh Anastasia Aemilia. Sampai akhir cerita saya merasa banyak lobang-lobang yang –jujur– cukup mengecewakan.

Sebagai penikmat NCIS dan semua karakternya yang kuat dan memiliki fungsi di masing-masing serialnya, saya berharap terlalu banyak pada penulis novel ini.

Apa penyebab Tara membenci Tari dan Bara. Tara membenci Bara karena sering menyiksa Tari (– tapi kok saya menangkap penulis ingin menyampaikan efek buruk dari anak anak yang menangkap aktifitas seksual orangtuanya di ranjang — tapi pendapat saya ini sangat lemah). Tapi tidak dikisahkan mengapa Tara membenci Tari. Mungkin, harusnya ada kalimat Tara membenci Tari karena menjadi perempuan lemah yang tidak melawan kekerasan Bara.

Mengapa koin lima rupiah tahun 1974. Ello, laki-laki psikopat yang selalu membawa koin lima rupiah tahun 1974 tidak diceritakan mengapa ada ketergantungan dengan uang koin itu. Diceritakan ibunya yang menyuruhnya memegang koin itu. Ibunya meninggal — saya lupa, dibunuh oleh ayahnya Ello (Heru) atau meninggal karena sebab lain.

Mengapa mint. Dari awal Tara ditemukan di kotak perkakas itu selalu terbau aroma mint. Kemudian penulis mengajak pembaca untuk merangkai keberadaan Heru sebagai kunci rangkaian cerita sadis. Tapi tidak diceritakan mengapa Heru menjadi sadis, yang berakibat Ello secara genetis juga menjadi psikopat.

Alfons mati. Sangat disayangkan, Alfons yang menjadi tokoh utama kedua setelah Tara dibuat mati. Saya menangkap penulis akan membuat Alfons ini sebagai karakter yang twisted. Saya membayangkan, penulis akan menceritakan begini : Tara jatuh hati pada Alfons karena kebaikan dan sifatnya yang bisa mengerti Tara. Tapi ternyata Alfons gay dan membuat Tara merasakan siksa yang berbeda dari siksa trauma saat berada di dalam kotak perkakas.

Tukang kebun rumah Alfons. Waktu Alfons hilang, ada yang masuk ke kamar Tara dan meletakkan surat terakhir dari Alfons sebelum di mutilasi. Dicurigai pelakunya adalah Arif yang menyamar menjadi tukang kebun rumah Alfons. Waktu itu masih ada intel-intel yang mengawasi Tara. Kalau memang begitu, apakah intel-intel ini tidak paham dengan wajah Arif — yang tentunya ada di daftar DPO ?

Alur cerita yang maju mundur. Setelah saya menyelesaikan novel ini dan menautkan waktunya, ada banyak selip alur yang membingungkan. Diceritakan, Tara ditemukan di dalam kotak perkakas, ada mayat Sasi dan Bara, lalu tubuh Arif yang kritis. Arif dan Tara dibawa ke rumah sakit. Kemudian Arif hilang. Di bagian tengah cerita, diceritakan Arif mencari Heru untuk membantu membunuh Tara. Tapi di bagian belakang, Tara bercerita yang memasukkan tubuhnya ke kotak perkakas adalah Arif — sebelum Arif terjatuh dan pingsan. Cerita Heru dan pembunuhan yang dia lakukan sebelumnya juga tidak diceritakan detail dan menyisakan rasa bingung.

Tapi semua ini hanya pendapat saya pribadi yang terlalu berharap lebih pada penulis. Sayang sih, penuturan yang begitu mengalir dan menjerat diakhiri dengan epilog yang — menurut saya — terlalu KENTANG.

Buat kamu yang pengen baca detailnya dan punya pendapat sendiri, buruan baca gih. Nanti saya disenggol ya. Hehe.

Rating 1-10, saya kasih 7 aja.

Posted in Momdriver's Diary

Hello April

Rencana masih dalam tahap wacana.

Saat Maret berlalu dan masih saja saya tidak teratur menulis di blog ini, harapan bulan April bisa lebih rajin ngeblog. Ternyata, rencana masih tetap dalam tahap wacana.

Tapi, kecintaan pada menulis tetap saja menggelora. Saya tetap akan menulis, sejarang apapun itu … tetap menulis.

Hello April, …

hello-april-1.jpg

Posted in Catatan Kampus Tulip

The Silence of Music

If you learn to listen, you will learn that each life speaks to us to love.

~Andrea Bocelli

Saya nggak sengaja nemu film ini di salah satu chanel tv langganan. Awalnya nggak tau ceritanya, tapi karena kisah nyata, saya suka … Saya suka.

Bercerita tentang Amos Bardi, putra sulung sepasang pemilik peternakan yang kaya raya. Amos tumbuh menjadi anak aktif yang ingin tahu walau dengan pandangan yang terbatas. Setelah melalui serangkaian operasi, Amos remaja kehilangan total pandangannya diusia remaja.

Ada adegan menyentuh hati ketika Amos terpaksa disekolahkan di asrama putra khusus tuna netra. Amos menangis sedih dan meminta ibunya tidak menyekolahkannya disitu. Ibunya ditegar2in. Ayahnya juga. Dimobil, si ayah menutup wajahnya dengan koran. Ketika ibunya membuka koran itu, wajah ayahnya berlinang air mata.

Gregel.

Dibandingkan teman-temannya, Amos masih memiliki sedikit pandangan walaupun buram. Sampai sebuah kejadian menimpanya (mata Amos terkena bola saat menjadi kiper di pelajaran olah raga). Setelah itu Amos kehilangan pandangan. Sedih banget pas Amos kehilangan total pandangannya.
“Mama, tolong. Mataharinya pergi. Mataharinya menghilang”.
Ibunya memeluknya dan menangis pilu. Kata Amos, dia tidak pernah melihat ibunya menangis. Baru sekali itu.

Pada bagian ini saya langsung teringat Andrea Bocelli, penyanyi tenor yang punya kenangan tentang jerami jerami kering di rumahnya.

Amos Bardi diceritakan sangat suka bermain di lumbung peternakan.

Cerita bergulir, baru ngeh pas Amos Bardi sepanggung sama Pavarotti.

Dan Amos Bardi ini memang a.k.a Andrea Bocelli

Posted in Momdriver's Diary, Motherhood

While Papa At Work

Saya bersyukur karena sekarang saya berprofesi sebagai momdriver.

Tidak ada lagi dikejar kejar tenggat waktu. Lembur akhir bulan. Meeting luar kota dan meninggalkan anak anak di rumah. Eit, saya tidak menyudutkan ibu bekerja yang tentunya memiliki pertimbangan tersendiri. Bukan berarti mereka yang lembur dan kerja luar kota nggak sayang sama anak anaknya.

Hidup penuh dengan pilihan.

Dan pilihan saya adalah yang saya jalani saat ini. Tidak punya uang tiap bulan seperti dulu. Berpusing ria mengelola uang suami hehe … tapi waktu saya banyak untuk anak anak saya.

Seperti kali ini, tiga  hari suami nggak bisa pulang karena tugas akhir bulan dan tenggat waktu yang merepek membuat kami bertiga menyusul ke kota tempat suami kerja. Terlebih karena si Mas ulang tahun kemarin. Sudah bisa protes tuh, Papa kok nggak pulang pas aku ulang tahun. Akhirnya papanya book hotel yang kolam renangnya enak — request si Mas — dan kami menikmati waktu di hotel sementara si papa kerja.

Semua tetap disyukuri ya.

Thanks to Hubby yang menyediakan kenyamanan buat kami. We love you. Target terus ya Pa supaya bisa dapat bonus bonus buat keluarga kita. Eh. 😉

IMG_20190302_082603

Si Mas dan Si Adek di pool KJ Hotel Prawirotaman.

Posted in Momdriver's Diary, Wifelife

Hello March

Mengawali Maret selalu membuat hati saya bungah.

Bagaimana tidak?

Setiap tanggal 1 Maret, saya merayakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Tahun demi tahun. Immanuel Marvel, anak sulung saya, tahun ini genap 8 tahun. Itu artinya delapan tahun saya menjadi seorang ibu.

Setiap akhir Februari, menjelang subuh dini hari bulan Maret, saya selalu menyempatkan diri memperhatikan anak (anak) saya tidur. Dulu waktu belum ada si Adek, saya hanya memperhatikan si Mas dengan rasa syukur. Sekarang rasa syukurnya berlipat-lipat dengan tambah hadirnya si Adek yang polahnya selalu bikin tertawa dan bangga.

Menjadi ibu, dulu tidak pernah terbayang akan seperti ini. Terlebih saya butuh waktu empat tahun untuk menantikan kehadiran bayi dalam pernikahan kami. Saya masih ingat betul setiap mengikuti misa dan pada bagian pemberian  berkat anak anak oleh Romo Pastur, saya menahan diri untuk tidak menitikkan air mata. Sedih dan rindu memiliki anak-anak yang meramaikan rumah tangga saya dan suami. Menikmati wajah-wajah yang genetis dari manusia manusia besar yang mendampingi di samping atau belakangnya.

Betapa Tuhan luar biasa kreatif menciptakan manusia manusia kecil itu dengan memadukan dari kedua orang tua mereka.

Setelah memiliki kedua anak, saya makin takjub dengan kerja Tuhan. Betapa anak anak kami memiliki separuh saya dan separuh suami. Kadang secara fisik si Adek dapat senyum ayahnya dan si Mas dapat bulu mata saya. Dan secara sifat si Mas mirip saya di bagian ini dan si Adek nuruni ayahnya di bagian itu.

Luar biasa ajaib karya Tuhan!

Saya selalu bersyukur memiliki mereka. Walaupun kadang menjengkelkan — siapa yang tidak merasakan hal itu? — tapi lebih banyak sukacita dan bahagianya memiliki mereka dalam hidup saya.

Doa saya selalu setiap saat, saya dan suami terberkati untuk dapat menghantar dan menemani mereka menjalani hidup.

Amen.

IMG_20190301_182415

Posted in The Movie I Watched

Split : Lelaki dengan 23 Kepribadian

Waktu nonton SPLIT, saya penasaran dengan ke-23 kepribadian Kevin. Saya suka menyimak cerita kepribadian ganda. Dulu saya punya keyakinan bahwa setiap manusia memiliki peluang memiliki kepribadian ganda. Seperti kasus Sybill atau Billy. Atau novel yang diangkat dari kisah nyata : The Fifth Sally.

Dikisahkan Kevin Wendell Cumb (dimainkan apik oleh James Mcavoy) yang tinggal dengan ibunya karena ayahnya meninggal. Ibunya sering menyiksanya sehingga Kevin butuh kepribadian lain yang bisa melindunginya. Yang paling sering muncul adalah Patricia, Dennis dan Hedwig.

Yuk, satu satu saya akan ceritakan seingat saya ya.

  1. Kevin : sifatnya lembut, rapuh, dan ramah. Kevin tidak suka kekerasan. Jatuh cinta dengan Casey, gadis yang diculik Dennis.
  2. Hedwig : bocah 9 tahun yang suka berpakaian sport dan menari diiringi lagu Kanye West. Hedwig kalau ngomong logatnya lucu. Hedwig suka menggambar binatang di dinding menggunakan krayon.
  3. Patricia : ibu dari karakter yang ada. Perempuan terhormat, rapi, selalu mengintimidasi, punya wibawa.
  4. Dennis : pria kaku, protektif, dan punya kesenangan melihat perempuan menari. Dennis sangat perfeksionis dan menyukai kerapian. Dennislah yang menculik gadis-gadis di Glass. Di Split, Dennis menculik Claire Benoit, Marcia, dan Casey Cooke dan membawa mereka ke basement yang gelap dan pengap. Dennis melakukan ini sebagai salah satu ritual untuk mempersiapkan kedatangan The Beast : karakter ke-24 yang paling sempurna.
  5. Barry : pria yang punya ketertarikan di dunia fashion. Pintar membuat sketsa busana. Barry orang yang ceria dan punya aura positif. Di film Split Barry cukup sering muncul.
  6. Orwell : pemuda yang kikuk dan selalu ingin melakukan bunuh diri.
  7. Jade : gadis remaja yang baik hati dan menderita diabetes. Di Glass Jade berhasil mengelabui Darryl, penjaga panti rehab tempat Kevin ditahan, namun tidak berhasil dan bergantian karakter lain bermunculan dan saling menyalahkan.
  8. Karakter lainnya adalah : Norma, Henrich, Goddard, Bernice, Polly, Luke, Rakel, Felicia, Ansel, Jelin, Kat, BT, Samuel, Mary Reynolds yang kembar sama … siapa ya lupa, Ian, Mr. Pritchard.
  9. The Beast. Sosok paling sempurna dan dinanti-nanti oleh ke dua puluh tiga karakter lainnya. Kedua puluh tiga karakter ini disebut The Beast dengan The Horde (kawanan).

Film Split besutan M. Night Syamalan dan sesuai ciri khasnya, saya suka dengan twist di endingnya. Oya, di Glass Syamalan muncul juga sebagai pelanggan Dunn.

the split

Posted in The Movie I Watched

Glass : Apakah Super Human Ada?

Ini film yang aku tunggu tunggu dari dua tahun lalu. Sebelum membaca postingan ini, hati hati — spoiler !!!

the glass

Saranku, sebelum nonton film Glass, kalian nonton dulu prekuelnya : Unbreakable (th 2000) dan Split (th 2017). Saya nggak nyangka kedua film ini nyambung sampai nonton di akhir cerita, saat Davin Dunn tiba-tiba muncul. Dan saya berasa ditapuki setelah terkapar-kapar lihat 24 karakter Kevin yang berubah-ubah dan begitu bagusnya dimainkan oleh James McAvoy.

Glass menggabungkan tiga karakter utama dengan apiknya. Diawali dengan Dennis yang suka menculik perempuan-perempuan, kemudian bergantian dengan Hedwig yang bertugas menjaga agar Kevin tetap ditempat gelap. Patricia yang tenang teduh namun mengintimidasi. Asal kalian tau aja, Hedwig-Dennis-Patricia-Kevin ini diperankan satu orang yah. Kemudian Dunn muncul untuk menyelamatkan gadis-gadis ini. Dunn dibantu Joseph, anaknya, untuk menemukan lokasi The Beast and The Horde (Kevin dan ke-24 karakter gandanya).

Sayangnya, Dunn dan The Beast tertangkap. Mereka dibawa ke rehabilitasi berpengawasan ketat. Kemudian ada Dr. Ellie Staple yang dimainkan apik oleh Sarah Paulson. Staple punya spesialisasi menyadarkan manusia-manusia yang merasa dirinya super human.

Dunn dipenjara dengan kamar yang bisa menyemprot air kalau dia berusaha kabur. The Beast dipenjara dengan keamanan yang tidak terlalu ketat tapi kalau dia mau keluar kamar ada cahaya yang siap menembaknya dan mengubah personalitinya berubah-ubah. Dan … ternyata di penjara yang sama, ada Elijah Price — dari Unbreakable yang punya segudang rencana di otaknya. Mastermind.

Yeah. Kalian harus nonton Unbreakable dan Split dulu untuk menyatukan cerita yang ada di Glass.

Staple memberikan terapi untuk The Beast, Dunn dan Elijah.

Anehnya — rada maksa — mengapa panti rehab seketat itu hanya dijaga dua petugas jaga malam. Darryl yang suka banget ngobrol dan terlalu baik, dan .. uhm satunya lagi lupa yang gemas banget sama Elijah pengen ngapain gitu. Sampe kemudian Darryl dan si penjaga satunya ini dibunuh sama Elijah dan The Beast.

Kemudian cerita bergulir. Dunn yang diungkap masa kecilnya sering dibully sehingga menjadikan air sebagai kelemahan superheronya. Elijah yang punya masalah dengan Osteogenesis Imperfecta — tulang rapuh. Dan Kevin dengan masa lalu ibunya yang suka menyiksa — makin parah sejak ayahnya meninggal.

Menurut saya — sebab kematian ayahnya ini jadi klimaks — kemudian antiklimaks dari cerita Glass.

Jadi, bagaimana ayah Kevin meninggal dan mengapa jadi titik klimaks film ini, tonton aja sendiri ya haha. Terlalu  banyak spoiler disini.

Yang saya suka dari film ini adalah : saya pulang membawa pertanyaan besar : APAKAH SUPERHERO NYATA ADA ?

Elijah dengan masalah broken bone-nya dari kecil merasa tidak pernah diterima di dunia. Ibunya yang selalu melindunginya. Elijah menghabiskan masa kecilnya dengan membaca komik dan membuatnya punya khayalan tinggi bahwa dia bisa mencipta superhero. David Dunn dan The Beast adalah khayalan superhero ciptaannya. Dan di ending Glass, semua terjawab.

Ada tiga tokoh pendamping tokoh utama yang muncul di satu screen dan Elijah berkata sambil berbisik dengan wajah puas : “Ini sampai dibagian semua karakter muncul” — Di sini saya dibuat melihat dari sudut pandang yang berbeda dan bereaksi seperti : OH YEAH !!!

Adegan-adegan pertempuran The Beast dan Dunn cukup oke — tapi sebenarnya ekspektasi saya berlebihan. Saya tidak terlalu suka, kecuali ketika The Beast lari melompat seperti binatang menyerang Dunn.

Saya suka di adegan terakhir ketika Staple menemui kenyataan bahwa Elijah udah ngerjain dia. Saya suka ketika Staple teriak histeris karena “kalah”

Satu pertanyaan tersisa : Staple ini sebenarnya siapa sih? Dan apa arti tato semanggi kecil di pergelangan tangannya?

Ada yang bisa jawab?

 

Posted in The Movie I Watched, The Passage

The Passage S1 Ep1

Aku tidak percaya adanya monster sampai aku menjadi salah satunya.

Kalimat ini menjadi pembuka serial The Passage. Amy Bellfonte (cast. Saniyya Sidney) menjadi tokoh utama di serial ini. Karena Amy dan cerita tentang vampir — yang di serial ini lebih mirip zombie — jadi ingat film The Girl With All The Gifts yang diperankan Sennia Nenua menjadi The Hungries.

THE_PASSAGE_.jpg

foto diambil dari Twentieth Century Fox Television

THE PASSAGE  — pada awalnya bukanlah dari Amy Bellfonte. Berawal dari Dr. Tim Fanning (cast. Jamie McShane) dan Dr. Jonas Lear (cast. Henry Ian Cusick) dan team peneliti serum yang ingin menyelamatkan manusia di masa depan, menemukan manusia yang berusia 250tahun di daerah Bolivia. Manusia yang akan mereka temui berada di sebuah gua yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencapai ke sana. Sesampainya di sana Fanning dan Lear sangat terpukau dengan manusia 250 tahun yang berada di sebuah kerangkeng. Seorang anak kecil memberinya makan pada saat mereka tiba di sana. Fanning yang penasaran dengan resep usia jangka panjang manusia itu maju ke depan dan bertanya pada anak kecil itu mengapa manusia itu dipenjara dan mengapa dia diikat. Apakah dia sakit? Fanning menawarkan diri untuk mengobatinya — padahal semua team termasuk tim army melarangnya untuk mendekat. Manusia itu menyerang Fanning dan menggigit lehernya. Fanning roboh.

Setting berpindah ke sebuah laboratorium di kota dimana Team Lear dan Fanning bergabung dengan team lebih besar. Ada disebut Project Noah yang saya nggak begitu paham karena belum dijelaskan detail di episode pertama ini. Di laboratorium itu ada dua belas manusia yang terinfeksi virus yang belum diketahui serum antibodinya ini dan membuat manusia-manusia itu imortal. Mereka tidak mati, tapi berubah bentuk. Kebanyakan sih jadi seperti zombie, tapi mereka menyebutnya vampir.

Salah satu ilmuwan bilang, semakin muda manusia yang terinfeksi makin bagus bentuknya, kesimpulan sementara adalah mereka membutuhkan manusia muda untuk objek penelitian. Adapun Antony Carter, usia 25 th, yang akan menjadi objek berikutnya yang sudah terdaftar. Antony adalah napi dengan vonis seumur hidup yang akan diberikan keringanan hukuman kalau dia bersedia menjadi objek penelitian ini. Tapi ternyata Antony tidak cukup. Mereka butuh anak kecil.

Masalahnya, siapakah anak kecil yang tidak dirindukan dan tidak punya siapa siapa yang bisa menjadi objek penelitian berikutnya?

Adalah Amy Bellfonte, gadis 10 th yang tinggal dengan ibunya yang single mom dan junky. Amy anak yang ceria, cerdas dan kritis. Amy selalu membaca buku A Wrinkle In A Time pemberian ibunya. Suatu hari Amy pulang ke rumah dan mendapati ibunya meninggal overdosis. Jadilah Amy ini sebatang kara tanpa jaminan sosial dan tak punya siapa siapa.

Dalam team Project Noah itu ada pasangan kekasih Dr. Nicole Sykes (cast. Caroline Cikezie) dan Clark Richards (cast. Vincent Piazza). Richards bersahabat dengan Brad Wolgast (cast. Mark Paul Gosselaar) yang ditugasi sebagai petugas penjemput. Brad punya masa lalu dengan mantan istrinya, Dr. Lila Kyle, dan anaknya yang kayaknya meninggal entah karena apa, belum dijelasin di episode satu ini.

Harusnya Brad menjemput dan membawa Amy sebagai cargo yang dengan mudahnya dibawa ke lab. Wong bawa penjahat-penjahat kelas kakap aja gampang kok, masa bawa anak kecil 10 tahun aja ribet. Tapi disinilah letak masalah muncul. Brad berkhianat. Dia bukannya membawa Amy ke lab malah menyelamatkan Amy dan membawanya pergi.

Cerita episode satu baru sampai sini.

Mengapa saya tertarik nonton padahal ini cerita tentang immortal yang sering bikin saya mimpi buruk?

Pertama, karena Brad ganteng. *halah* Karena bercerita tentang kemanusiaan. Brad menyelamatkan Amy pasti karena masa lalunya dengan mantan istri dan anaknya yang meninggal. Persahabatan Brad dan Richards yang dipertaruhkan. Persahabatan Lear dan Fanning yang teruji. Dan — ya — tentang zombie a.k.a vampir.

Oya, ada konflik yang dialami Richards. Salah satu The Twelve, Shauna Babcock (cats. Briane Howey) adalah seorang napi serial killer. Dia kayaknya ada ketertarikan dengan Richards. Dan kayaknya ke depannya nanti Shauna akan menghantui Richards dan mengganggu hubungannya dengan Sykes — yang kayaknya punya kegalauan antara bersetia pada dunia lab vs kata hatinya. Fanning juga sering menghantui mimpi dokter-dokter di lab. Para vampir (–kenapa saya lebih suka menyebutnya zombie yah!!!) ini berkomunikasi melalui mimpi, kayaknya. Seperti kata seorang dokter yang curhat sama Lear yang selalu ingin sahabatnya bereaksi, katanya Fanning selalu ingin pulang — bilang gitu di mimpi dokter-dokter.

Belum detail The Twelve ini siapa aja, yang baru jelas karakternya baru : Fanning, Babcock dan Carter. Yang lainnya belum dikupas tuntas. Maklum, baru episode satu.

Tenang, konon katanya hanya ada 10 episode The Passage yang diangkat dari novel trilogi karya Justin Cronin. The Passage, The Twelve, dan The Mirror.

Aslik, jadi pengen baca bukunya.

novel.jpg

Posted in The Passage

Vampir & Zombie, Do They Exist?

Setelah Abby keluar dan Kezie jadi penggantinya di NCIS S16, saya agak kurang antusias nonton Kakek Ganteng, walaupun Kamis jam 20.00 tetap jadi penguasa remote.

Ada serial baru di Ch.AXN, #TheChronicleofTheWitch yang walaupun cukup menarik tapi tokohnya kurang ganteng ✌😏✌ jadi agak males malesan karena ceritanya drama antara penyihir dan vampir. Cukup kronikel Cullen dan Swan aja yang pernah memikat hatiku. 😏

Nah, ini ada serial baru yang ketika nonton bikin saya kembang kempis.

#THEPASSAGE.

Saya sudah ngira ini semacam zombie2an yang bikin saya mimpi buruk, tapi pas nonton, saya nggak bisa brenti berpikir. Bahkan berhari hari setelahnya. Bahkan setelah nonton ulangannya 3-4x.

Ceritanya tentang penyelamatan dunia dari virus (flu burung????) yang mematikan. Analoginya adalah, kamu terpapar pagi, malamnya kamu mati. Gitu. Jadi para ilmuwan ini nyari antibodi atau semacam serum untuk memperpanjang usia manusia terutama yang terjangkit.

Di beberapa manusia yang jadi uji coba — manusianya diambil dari napi napi yang dapat hukuman mati, lalu dikasih opsi bisa bebas kalau mau ikut Project Noah — virus itu tidak mematikan, hanya membuat manusia manusia ini bereaksi yang berbeda-beda. Semakin muda usia semakin kuat tubuhnya.

COD dan CCD berhasil membuat Shauna Babcock tetap hidup dengan wujud masih utuh sebagai manusia, karena usianya muda. Nah, para ilmuwan ini kemudian mencari manusia uji coba dengan usia yang lebih muda (anak anak).

Masalahnya, siapa anak anak yang bisa jadi ujicoba? Anak anak yang tidak dirindukan, dan sekalipun dia tidak ada, tidak akan ada yang mencari.

So, here she is. #AmyBellfonte — anak kecil negro yang ceriwis, ceria dan kritis, yang hanya dimiliki dan memiliki single mom yang walaupun mencintainya tapi pecandu obat. Si ibu ini kemudian mati dan meninggalkan Amy yang akhirnya menjadi sosok yang ideal untuk menggenapi Projetct Noah.

Bagaimana ceritanya?

Baca post berikut yaaa …