Posted in Wordisme

Katarsis : antara balas dendam dan sekeping koin lima rupiah

Pertama kali saya memutuskan untuk memilih novel Katarsis adalah karena sampul bukunya. Buat saya, kalimat DON’T JUDGE A BOOK FROM ITS COVER tidak berlaku. Buku yang bagus dengan cover yang tidak menarik akan membuat saya mengernyitkan dahi dan mungkin membuat saya memutuskan untuk tidak membeli / membaca buku tersebut.

katarsis.jpg

Judul buku : Katarsis

Penulis : Anastasia Aemilia

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2013

Jumlah halaman : 271

Novel ini bercerita tentang Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun yang menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya yang berada di Bandung. Tara satu-satunya orang yang hidup sementara semua keluarganya tewas. Ketika ditemukan, Tara disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam keadaan syok berat dan menggenggam sekeping koin lima rupiah tahun 1974. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Tara Johandi adalah putri tunggal pasangan Bara dan Tari Johandi. Karena Tari meninggal, Bara menitipkan Tara pada adiknya yang punya putra tunggal, Arif dan Sasi Johandi, dan anak mereka, Moses Johandi. Tara anak yang anti sosial. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan cenderung memiliki sifat psikopat. Konon kabarnya Tari meninggal juga karena dicelakai Tara. Kemudian Tara juga memutilasi Moses, kakak sepupunya karena berusaha memerkosanya. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan, Tara ikut tinggal bersama Alfons, psikiater baik hati yang mendedikasikan dirinya untuk kasus-kasus anak yang bermasalah psikologis. Lalu muncul Ello, laki laki tampan berlesung pipi yang psikopat. Ello naksir Tara. Ello juga salah satu pasien Alfons.

Saya suka dengan cara Anastasia Aemilia menuturkan. Kelam, suram, dan menjerat pembaca untuk terus melanjutkan lembar demi lembar. Mungkin latar belakang pendidikan dia sebagai psikolog sangat berpengaruh dalam pemilihan kata-kata dan alur cerita. Sebagai penikmat film-film psychology thriller, novel ini cukup menyalakan tombol-tombol penasaran dalam otak saya. Berharap  banyak dari ending yang memukau dan menebak-nebak arah cerita. Untuk cerita pembunuhan dan karakter tokohnya saya acungi jempol. Detail dan kompleks.

tara.jpgKarakter Tara Johandi yang dibuat oleh Shanly Alvionico Febrilian — salah satu pembaca Novel Katarsis

Sayangnya, sampai akhir novel saya tidak mendapatkan “SESUATU” kecuali sensasi membaca novel psikologi triler. Tidak ada nilai moral dan pesan yang disampaikan oleh Anastasia Aemilia. Sampai akhir cerita saya merasa banyak lobang-lobang yang –jujur– cukup mengecewakan.

Sebagai penikmat NCIS dan semua karakternya yang kuat dan memiliki fungsi di masing-masing serialnya, saya berharap terlalu banyak pada penulis novel ini.

Apa penyebab Tara membenci Tari dan Bara. Tara membenci Bara karena sering menyiksa Tari (– tapi kok saya menangkap penulis ingin menyampaikan efek buruk dari anak anak yang menangkap aktifitas seksual orangtuanya di ranjang — tapi pendapat saya ini sangat lemah). Tapi tidak dikisahkan mengapa Tara membenci Tari. Mungkin, harusnya ada kalimat Tara membenci Tari karena menjadi perempuan lemah yang tidak melawan kekerasan Bara.

Mengapa koin lima rupiah tahun 1974. Ello, laki-laki psikopat yang selalu membawa koin lima rupiah tahun 1974 tidak diceritakan mengapa ada ketergantungan dengan uang koin itu. Diceritakan ibunya yang menyuruhnya memegang koin itu. Ibunya meninggal — saya lupa, dibunuh oleh ayahnya Ello (Heru) atau meninggal karena sebab lain.

Mengapa mint. Dari awal Tara ditemukan di kotak perkakas itu selalu terbau aroma mint. Kemudian penulis mengajak pembaca untuk merangkai keberadaan Heru sebagai kunci rangkaian cerita sadis. Tapi tidak diceritakan mengapa Heru menjadi sadis, yang berakibat Ello secara genetis juga menjadi psikopat.

Alfons mati. Sangat disayangkan, Alfons yang menjadi tokoh utama kedua setelah Tara dibuat mati. Saya menangkap penulis akan membuat Alfons ini sebagai karakter yang twisted. Saya membayangkan, penulis akan menceritakan begini : Tara jatuh hati pada Alfons karena kebaikan dan sifatnya yang bisa mengerti Tara. Tapi ternyata Alfons gay dan membuat Tara merasakan siksa yang berbeda dari siksa trauma saat berada di dalam kotak perkakas.

Tukang kebun rumah Alfons. Waktu Alfons hilang, ada yang masuk ke kamar Tara dan meletakkan surat terakhir dari Alfons sebelum di mutilasi. Dicurigai pelakunya adalah Arif yang menyamar menjadi tukang kebun rumah Alfons. Waktu itu masih ada intel-intel yang mengawasi Tara. Kalau memang begitu, apakah intel-intel ini tidak paham dengan wajah Arif — yang tentunya ada di daftar DPO ?

Alur cerita yang maju mundur. Setelah saya menyelesaikan novel ini dan menautkan waktunya, ada banyak selip alur yang membingungkan. Diceritakan, Tara ditemukan di dalam kotak perkakas, ada mayat Sasi dan Bara, lalu tubuh Arif yang kritis. Arif dan Tara dibawa ke rumah sakit. Kemudian Arif hilang. Di bagian tengah cerita, diceritakan Arif mencari Heru untuk membantu membunuh Tara. Tapi di bagian belakang, Tara bercerita yang memasukkan tubuhnya ke kotak perkakas adalah Arif — sebelum Arif terjatuh dan pingsan. Cerita Heru dan pembunuhan yang dia lakukan sebelumnya juga tidak diceritakan detail dan menyisakan rasa bingung.

Tapi semua ini hanya pendapat saya pribadi yang terlalu berharap lebih pada penulis. Sayang sih, penuturan yang begitu mengalir dan menjerat diakhiri dengan epilog yang — menurut saya — terlalu KENTANG.

Buat kamu yang pengen baca detailnya dan punya pendapat sendiri, buruan baca gih. Nanti saya disenggol ya. Hehe.

Rating 1-10, saya kasih 7 aja.

Posted in Momdriver's Diary

Hello April

Rencana masih dalam tahap wacana.

Saat Maret berlalu dan masih saja saya tidak teratur menulis di blog ini, harapan bulan April bisa lebih rajin ngeblog. Ternyata, rencana masih tetap dalam tahap wacana.

Tapi, kecintaan pada menulis tetap saja menggelora. Saya tetap akan menulis, sejarang apapun itu … tetap menulis.

Hello April, …

hello-april-1.jpg

Posted in Catatan Kampus Tulip

The Silence of Music

If you learn to listen, you will learn that each life speaks to us to love.

~Andrea Bocelli

Saya nggak sengaja nemu film ini di salah satu chanel tv langganan. Awalnya nggak tau ceritanya, tapi karena kisah nyata, saya suka … Saya suka.

Bercerita tentang Amos Bardi, putra sulung sepasang pemilik peternakan yang kaya raya. Amos tumbuh menjadi anak aktif yang ingin tahu walau dengan pandangan yang terbatas. Setelah melalui serangkaian operasi, Amos remaja kehilangan total pandangannya diusia remaja.

Ada adegan menyentuh hati ketika Amos terpaksa disekolahkan di asrama putra khusus tuna netra. Amos menangis sedih dan meminta ibunya tidak menyekolahkannya disitu. Ibunya ditegar2in. Ayahnya juga. Dimobil, si ayah menutup wajahnya dengan koran. Ketika ibunya membuka koran itu, wajah ayahnya berlinang air mata.

Gregel.

Dibandingkan teman-temannya, Amos masih memiliki sedikit pandangan walaupun buram. Sampai sebuah kejadian menimpanya (mata Amos terkena bola saat menjadi kiper di pelajaran olah raga). Setelah itu Amos kehilangan pandangan. Sedih banget pas Amos kehilangan total pandangannya.
“Mama, tolong. Mataharinya pergi. Mataharinya menghilang”.
Ibunya memeluknya dan menangis pilu. Kata Amos, dia tidak pernah melihat ibunya menangis. Baru sekali itu.

Pada bagian ini saya langsung teringat Andrea Bocelli, penyanyi tenor yang punya kenangan tentang jerami jerami kering di rumahnya.

Amos Bardi diceritakan sangat suka bermain di lumbung peternakan.

Cerita bergulir, baru ngeh pas Amos Bardi sepanggung sama Pavarotti.

Dan Amos Bardi ini memang a.k.a Andrea Bocelli

Posted in Momdriver's Diary, Motherhood

While Papa At Work

Saya bersyukur karena sekarang saya berprofesi sebagai momdriver.

Tidak ada lagi dikejar kejar tenggat waktu. Lembur akhir bulan. Meeting luar kota dan meninggalkan anak anak di rumah. Eit, saya tidak menyudutkan ibu bekerja yang tentunya memiliki pertimbangan tersendiri. Bukan berarti mereka yang lembur dan kerja luar kota nggak sayang sama anak anaknya.

Hidup penuh dengan pilihan.

Dan pilihan saya adalah yang saya jalani saat ini. Tidak punya uang tiap bulan seperti dulu. Berpusing ria mengelola uang suami hehe … tapi waktu saya banyak untuk anak anak saya.

Seperti kali ini, tiga  hari suami nggak bisa pulang karena tugas akhir bulan dan tenggat waktu yang merepek membuat kami bertiga menyusul ke kota tempat suami kerja. Terlebih karena si Mas ulang tahun kemarin. Sudah bisa protes tuh, Papa kok nggak pulang pas aku ulang tahun. Akhirnya papanya book hotel yang kolam renangnya enak — request si Mas — dan kami menikmati waktu di hotel sementara si papa kerja.

Semua tetap disyukuri ya.

Thanks to Hubby yang menyediakan kenyamanan buat kami. We love you. Target terus ya Pa supaya bisa dapat bonus bonus buat keluarga kita. Eh. 😉

IMG_20190302_082603

Si Mas dan Si Adek di pool KJ Hotel Prawirotaman.

Posted in Momdriver's Diary, Wifelife

Hello March

Mengawali Maret selalu membuat hati saya bungah.

Bagaimana tidak?

Setiap tanggal 1 Maret, saya merayakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Tahun demi tahun. Immanuel Marvel, anak sulung saya, tahun ini genap 8 tahun. Itu artinya delapan tahun saya menjadi seorang ibu.

Setiap akhir Februari, menjelang subuh dini hari bulan Maret, saya selalu menyempatkan diri memperhatikan anak (anak) saya tidur. Dulu waktu belum ada si Adek, saya hanya memperhatikan si Mas dengan rasa syukur. Sekarang rasa syukurnya berlipat-lipat dengan tambah hadirnya si Adek yang polahnya selalu bikin tertawa dan bangga.

Menjadi ibu, dulu tidak pernah terbayang akan seperti ini. Terlebih saya butuh waktu empat tahun untuk menantikan kehadiran bayi dalam pernikahan kami. Saya masih ingat betul setiap mengikuti misa dan pada bagian pemberian  berkat anak anak oleh Romo Pastur, saya menahan diri untuk tidak menitikkan air mata. Sedih dan rindu memiliki anak-anak yang meramaikan rumah tangga saya dan suami. Menikmati wajah-wajah yang genetis dari manusia manusia besar yang mendampingi di samping atau belakangnya.

Betapa Tuhan luar biasa kreatif menciptakan manusia manusia kecil itu dengan memadukan dari kedua orang tua mereka.

Setelah memiliki kedua anak, saya makin takjub dengan kerja Tuhan. Betapa anak anak kami memiliki separuh saya dan separuh suami. Kadang secara fisik si Adek dapat senyum ayahnya dan si Mas dapat bulu mata saya. Dan secara sifat si Mas mirip saya di bagian ini dan si Adek nuruni ayahnya di bagian itu.

Luar biasa ajaib karya Tuhan!

Saya selalu bersyukur memiliki mereka. Walaupun kadang menjengkelkan — siapa yang tidak merasakan hal itu? — tapi lebih banyak sukacita dan bahagianya memiliki mereka dalam hidup saya.

Doa saya selalu setiap saat, saya dan suami terberkati untuk dapat menghantar dan menemani mereka menjalani hidup.

Amen.

IMG_20190301_182415

Posted in The Movie I Watched

Split : Lelaki dengan 23 Kepribadian

Waktu nonton SPLIT, saya penasaran dengan ke-23 kepribadian Kevin. Saya suka menyimak cerita kepribadian ganda. Dulu saya punya keyakinan bahwa setiap manusia memiliki peluang memiliki kepribadian ganda. Seperti kasus Sybill atau Billy. Atau novel yang diangkat dari kisah nyata : The Fifth Sally.

Dikisahkan Kevin Wendell Cumb (dimainkan apik oleh James Mcavoy) yang tinggal dengan ibunya karena ayahnya meninggal. Ibunya sering menyiksanya sehingga Kevin butuh kepribadian lain yang bisa melindunginya. Yang paling sering muncul adalah Patricia, Dennis dan Hedwig.

Yuk, satu satu saya akan ceritakan seingat saya ya.

  1. Kevin : sifatnya lembut, rapuh, dan ramah. Kevin tidak suka kekerasan. Jatuh cinta dengan Casey, gadis yang diculik Dennis.
  2. Hedwig : bocah 9 tahun yang suka berpakaian sport dan menari diiringi lagu Kanye West. Hedwig kalau ngomong logatnya lucu. Hedwig suka menggambar binatang di dinding menggunakan krayon.
  3. Patricia : ibu dari karakter yang ada. Perempuan terhormat, rapi, selalu mengintimidasi, punya wibawa.
  4. Dennis : pria kaku, protektif, dan punya kesenangan melihat perempuan menari. Dennis sangat perfeksionis dan menyukai kerapian. Dennislah yang menculik gadis-gadis di Glass. Di Split, Dennis menculik Claire Benoit, Marcia, dan Casey Cooke dan membawa mereka ke basement yang gelap dan pengap. Dennis melakukan ini sebagai salah satu ritual untuk mempersiapkan kedatangan The Beast : karakter ke-24 yang paling sempurna.
  5. Barry : pria yang punya ketertarikan di dunia fashion. Pintar membuat sketsa busana. Barry orang yang ceria dan punya aura positif. Di film Split Barry cukup sering muncul.
  6. Orwell : pemuda yang kikuk dan selalu ingin melakukan bunuh diri.
  7. Jade : gadis remaja yang baik hati dan menderita diabetes. Di Glass Jade berhasil mengelabui Darryl, penjaga panti rehab tempat Kevin ditahan, namun tidak berhasil dan bergantian karakter lain bermunculan dan saling menyalahkan.
  8. Karakter lainnya adalah : Norma, Henrich, Goddard, Bernice, Polly, Luke, Rakel, Felicia, Ansel, Jelin, Kat, BT, Samuel, Mary Reynolds yang kembar sama … siapa ya lupa, Ian, Mr. Pritchard.
  9. The Beast. Sosok paling sempurna dan dinanti-nanti oleh ke dua puluh tiga karakter lainnya. Kedua puluh tiga karakter ini disebut The Beast dengan The Horde (kawanan).

Film Split besutan M. Night Syamalan dan sesuai ciri khasnya, saya suka dengan twist di endingnya. Oya, di Glass Syamalan muncul juga sebagai pelanggan Dunn.

the split

Posted in The Movie I Watched

Glass : Apakah Super Human Ada?

Ini film yang aku tunggu tunggu dari dua tahun lalu. Sebelum membaca postingan ini, hati hati — spoiler !!!

the glass

Saranku, sebelum nonton film Glass, kalian nonton dulu prekuelnya : Unbreakable (th 2000) dan Split (th 2017). Saya nggak nyangka kedua film ini nyambung sampai nonton di akhir cerita, saat Davin Dunn tiba-tiba muncul. Dan saya berasa ditapuki setelah terkapar-kapar lihat 24 karakter Kevin yang berubah-ubah dan begitu bagusnya dimainkan oleh James McAvoy.

Glass menggabungkan tiga karakter utama dengan apiknya. Diawali dengan Dennis yang suka menculik perempuan-perempuan, kemudian bergantian dengan Hedwig yang bertugas menjaga agar Kevin tetap ditempat gelap. Patricia yang tenang teduh namun mengintimidasi. Asal kalian tau aja, Hedwig-Dennis-Patricia-Kevin ini diperankan satu orang yah. Kemudian Dunn muncul untuk menyelamatkan gadis-gadis ini. Dunn dibantu Joseph, anaknya, untuk menemukan lokasi The Beast and The Horde (Kevin dan ke-24 karakter gandanya).

Sayangnya, Dunn dan The Beast tertangkap. Mereka dibawa ke rehabilitasi berpengawasan ketat. Kemudian ada Dr. Ellie Staple yang dimainkan apik oleh Sarah Paulson. Staple punya spesialisasi menyadarkan manusia-manusia yang merasa dirinya super human.

Dunn dipenjara dengan kamar yang bisa menyemprot air kalau dia berusaha kabur. The Beast dipenjara dengan keamanan yang tidak terlalu ketat tapi kalau dia mau keluar kamar ada cahaya yang siap menembaknya dan mengubah personalitinya berubah-ubah. Dan … ternyata di penjara yang sama, ada Elijah Price — dari Unbreakable yang punya segudang rencana di otaknya. Mastermind.

Yeah. Kalian harus nonton Unbreakable dan Split dulu untuk menyatukan cerita yang ada di Glass.

Staple memberikan terapi untuk The Beast, Dunn dan Elijah.

Anehnya — rada maksa — mengapa panti rehab seketat itu hanya dijaga dua petugas jaga malam. Darryl yang suka banget ngobrol dan terlalu baik, dan .. uhm satunya lagi lupa yang gemas banget sama Elijah pengen ngapain gitu. Sampe kemudian Darryl dan si penjaga satunya ini dibunuh sama Elijah dan The Beast.

Kemudian cerita bergulir. Dunn yang diungkap masa kecilnya sering dibully sehingga menjadikan air sebagai kelemahan superheronya. Elijah yang punya masalah dengan Osteogenesis Imperfecta — tulang rapuh. Dan Kevin dengan masa lalu ibunya yang suka menyiksa — makin parah sejak ayahnya meninggal.

Menurut saya — sebab kematian ayahnya ini jadi klimaks — kemudian antiklimaks dari cerita Glass.

Jadi, bagaimana ayah Kevin meninggal dan mengapa jadi titik klimaks film ini, tonton aja sendiri ya haha. Terlalu  banyak spoiler disini.

Yang saya suka dari film ini adalah : saya pulang membawa pertanyaan besar : APAKAH SUPERHERO NYATA ADA ?

Elijah dengan masalah broken bone-nya dari kecil merasa tidak pernah diterima di dunia. Ibunya yang selalu melindunginya. Elijah menghabiskan masa kecilnya dengan membaca komik dan membuatnya punya khayalan tinggi bahwa dia bisa mencipta superhero. David Dunn dan The Beast adalah khayalan superhero ciptaannya. Dan di ending Glass, semua terjawab.

Ada tiga tokoh pendamping tokoh utama yang muncul di satu screen dan Elijah berkata sambil berbisik dengan wajah puas : “Ini sampai dibagian semua karakter muncul” — Di sini saya dibuat melihat dari sudut pandang yang berbeda dan bereaksi seperti : OH YEAH !!!

Adegan-adegan pertempuran The Beast dan Dunn cukup oke — tapi sebenarnya ekspektasi saya berlebihan. Saya tidak terlalu suka, kecuali ketika The Beast lari melompat seperti binatang menyerang Dunn.

Saya suka di adegan terakhir ketika Staple menemui kenyataan bahwa Elijah udah ngerjain dia. Saya suka ketika Staple teriak histeris karena “kalah”

Satu pertanyaan tersisa : Staple ini sebenarnya siapa sih? Dan apa arti tato semanggi kecil di pergelangan tangannya?

Ada yang bisa jawab?