Posted in Momdriver's Diary

FIRST DAY SCHOOL

Menjadi orang tua, selalu ada perasaan bungah ketika melepas anaknya sekolah. Saya masih ingat dulu, waktu pertama kali Si Mas sekolah. Ada rasa mellow, nggak rela anak sudah cepat besar. Dan Puji Tuhan, Si Mas mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Awalnya memang pakai drama … wajar ya … tapi hanya lima hari di awal di masa masa MOS saja. Setelah itu langsung bisa enjoy dengan teman-temannya.

IMG_20180711_112138.jpg

Si Adek, lebih mandiri dari Si Mas. Dari awal semangatnya berbeda dengan Si Mas dulu. Tapi masih harus melihat Mamanya. Saya nunggu di tepi sementara mama mama lain harus lari kesana kemari mengajak anaknya untuk turut mengikuti kegiatan sekolah.

Si Adek terlihat sangat menikmati sekolahnya — selama mamanya ada di jangkauan pandangannya — haha… Wajar ya, baru hari ke empat ini.

Saya sendiri lebih relaks mendampingi anak sekolah. Lebih longgar membiarkan anak berproses dan beradaptasi. Pertimbangan saya sederhana, ketika anak sudah mulai nyaman dengan lingkungan barunya, dia akan dengan gembira menjalaninya. Sekolah karena senang dan untuk belajar dengan bersenang-senang. Bukan sekolah karena HARUS sekolah.

Saya sendiri sempat terpikir dengan sistem sekolah Home Schooling. Saya ‘kena racun’ dari adik saya yang menerapkan home schooling untuk anaknya. Tapi setelah beberapa pertimbangan, saya memilih sekolah reguler untuk anak saya. Pertimbangan home schooling vs sekolah reguler akan saya posting nanti.

IMG_20180711_092122 MOMDRIVER’S ON DUTY.

Saya baper melihat polah dan ekspresi Si Adek saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Masih ingat banget saat dia nenen ASI. Masih lekat di ingatan setiap malam minta di elus elus layaknya bayi. Eh udah sekolah aja, Dek !

IMG_20180711_093040.jpg

IMG_20180711_092059

 

Advertisements
Posted in Momdriver's Diary

Ikhlas

Membaca postingan Rahel Yosi Ritonga, seperti membaca curhatan isi hati saya. Saya menyelesaikan pendidikan D3 hanya dalam kurun waktu dua tahun. Lalu bekerja di usia 20 tahun. Bekerja di perusahaan yang sama selama 16 tahun dari gaji 150rebu sampai gaji delapan digit. Melanjutkan jenjang pendidikan S1 dengan biaya sendiri, membeli rumah dengan angsuran yang mencekik, dan kemudian menikah dan beranak pinak. Kami menanti kehadiran anak lumayan lama. 4 tahun baru mendapatkan Si Mas. Selama itu perlu perjuangan melawan kanker tahap satu.

Sejak punya anak, prioritas hidup saya mulai berubah. Bukan lagi mengejar karier. Tantangan mutasi luar kota yang jauh dari keluarga menjadi masalah besar. Tawaran kenaikan gaji yang menggiurkan pun tidak menarik lagi. Waktu itu segala jurus membujuk suami untuk minta ijin belum di acc karena berbagai pertimbangan. Salah satunya, cicilan rumah dan mobil yang belum lunas.

Setelah lahir anak kedua, godaan untuk resign makin besar. Tawaran promosi pun di depan mata. Tapi prioritas telah berubah. Mungkin memang sudah jalan Tuhan. Suami promosi bukan lagi ke luar kota, tapi lintas pulau. Mantap kan. Usia Si Adik 5 bulan waktu kami memutuskan mengambil tawaran promosi suami. Godaan untuk resign makin besar. Kami menggunakan tiga asisten rumah tangga karena beberapa hari di awal bulan saya berangkat kerja jam 5 pagi sampai jam 6 sore.

Rasanya kok nggak adil ya.

Waktu itu perasaan bersalah makin menjadi. Kami menjalani kehidupan seperti ini selama kurang lebih satu tahun. Suami di Kalimantan. Saya di Magelang. Di rumah tiga asisten rumah tangga menjaga anak-anak saya. Sampai suatu hari saya mendapat informasi akan mendapat mutasi ke Jogja. Itu yang terdekat dibandingkan Tegal atau Semarang. Paling dekatpun memaksa saya untuk berangkat pulang pagi dan malam. Kalau di Magelang, saya masih sesekali sempat pulang untuk memberi Si Adik ASI.

Cicilan rumah dan mobil selesai.

Keputusan bersama diambil. Resign. Dan saya pun menyandang profesi MOMDRIVER.

Menyesal?

Sampai detik ini, setelah lebih dari tiga tahun saya berprofesi jadi momdriver, tidak ada rasa sesal sedikitpun. Sedih karena nggak pegang uang sendiri, iya. Tapi kalau mengingat saya bisa melihat pertumbuhan anak-anak, rasanya semuanya terbayar.

Hidup memang selalu harus memilih. Seringnya ada hal-hal yang harus dikorbankan. Tapi kalau kita ikhlas menjalani, saya percaya semuanya akan dimudahkan. Memang tidak selalu mudah tapi kalau kita sepakat dengan suami, kita akan menemukan solusi-solusi yang paling memungkinkan yang bisa kita ambil.

Saya tidak pernah terintimidasi dengan riuhnya perang opini mana yang lebih baik : ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Karena masing-masing menjalani atas keputusan yang terbaik yang paling memungkinkan dari masing-masing keadaan rumah tangga yang dijalani. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Saya percaya masing-masing keluarga pasti mengusahakan yang terbaik untuk orang -orang yang dikasihinya.

Posted in Catatan Kampus Tulip

Selamat Jalan, Dek.

Mendengar kabar duka pagi pagi. Seorang sahabat, adek dan teman seperjuangan. Kami awal kemo panjang sama sama, dijadwal sama sama 6x. Saya selesai di kemo ke 4, kontrol bulanan dan semoga sel nakal nggak akan pernah balik lagi.
Sahabat saya menyelesaikan kemo 6x dengan perjuangan lebih karena harus tranfusi tiap mau kemo, suntik leukosit karena darah putih drop, keluar masuk rumah sakit karena kondisi lemah.
Jumat kemaren perjuangannya usai. Sakitnya terangkat, dan sahabat kecilku kembali ke surga.
Selamat jalan, Dek. Bahagia di surga, Dek. Penjaga gerbang surga bagi ayah ibu dan adek adekmu. Doakan kami yang masih berjuang di bumi ini. I miss you, Dek. Teringat senyummu, tawamu, cuekmu, keluhanmu susah makan …
Dek, I miss you 💖 … i miss you … 😢

Posted in Catatan Kampus Tulip

Persepsi

Teman yang lama nggak ketemu atau baru kenal saya seringnya bertanya :
“Lho mbak, rambutnya kenapa digundul?”
… … …
Padahal ini kepala rambutnya baru aja mulai tumbuh

Ya. Dalam hidup sering orang hanya melihat hasil, bukan proses.

Selamat pagi.
Jangan lupa bersyukur setiap hari.
Gusti mberkahi. 💖

Posted in Wifelife

Ngurus SIM

Dulu, jaman masih kerja ngurus beginian kudu minta tolong orang (baca:makelar) karena sudah dipastikan bakal antri yang berarti butuh waktu dan harus ijin lama dari kantor.

Sekarang, ngurus beginian sudah lebih efisien. Sistem pengurusan memangkas jalur makelar — walau nggak sedikit yang masih menggunakan jasa ini —

SIM saya habis akhir juni. kemaren saya mau kir dokter ditolak karena pengajuan akhir mei.
Kemaren awal juni saya pengajuan kir lagi, proses cepat dan tidak lama mengantre (antrian tertib dan rapi, ruang tunggu nyaman).

Pagi ini saya proses pembuatan sim juga cepat dan nyaman.
Acara tv nya juga berbobot (nat geo), bukan sinteron marah marah yang bikin lelah. Musik musik Ramadhan juga mengalun lembut.

Proses cepat, nggak sampe satu jam selesai.

Biaya?
SIM A dan C Rp 150.000. Murah?
Iya. Kemaren waktu di tempat KIR saya ketemu orang yang pake jasa, biaya perpanjangan SIM A dan C 400.000
Biaya jasanya lumayan yak.

Posted in Catatan Kampus Tulip

Scanxiety

what matters most is how you walk through the fire.

same feeling. same anxiety. everytime i meet the doctor to see the progress.

shit may happens but i will fight.
always fight. i am not alone.
God be with me.

setiap saat merasa galau, liat liat foto saat proses kemo, saat senang dan sedih, sakit dan tangguh, yakin semua dapat dilewati. Tuhan serta. keluarga dan sahabat sahabat selalu menemani. terimakasih Tuhan.

God provides.
I believe that God sends His strongest soldier to the hardest battle. Keep the faith. Stay strong.
😊